Kritik Sastra: The Evolution of Teenage Communication in Literature

Reading a novel entitled “E-love: A Story of First Love on the Internet” by Caroline Plaisted, you may find a fresh idea how Plaisted wrote her novel. Of course, there are narrated text and direct dialogue as the common pattern of telling the story, but there are three ways more how Plaisted communicates the story to the readers. They are sending e-mail, text-messaging, and instant-messaging. This innovation in literature is based on daily teenage communication nowadays, the teenagers as the main character of this story, which are Sam, Dan, Butter, Claudia, and Debs, and teenager as the readers.

The narrated text from narrator, which is the main character herself –-Sam— fulfil almost half of whole text.

[…] I left the chatroom and clicked on to one of my bookmarks website. The last thing I needed was my mum catching me chatting to my mate Claudia on the net […]

Direct dialogues appear as phones conversation and face-to-face conversation. For phones conversation is only between Sam and Dan since they are the main characters, not Sam with her girl mates or Sam with her parents.

[…] ‘Got a pen and some paper?’ / ‘Yes.’ / ‘I’ll tell my mum to expect you mum’s call. But it might be an idea if she waits until tomorrow to call her.’ […]

For face-to-face conversations are had by Sam with all characters in the story, to her parents, girl mates, Mrs jay, and Dan.

[…] ‘Thanks, Mrs Jay. I’ll see you next week, then.’ / Goodbye, Samantha, dear. Have a lovely weekend.’ / ‘Yes, and you.’ […]

[…] ‘Would you?’ / ‘Certain of it. I mean, if you found his message attractive why wouldn’t we? Stands to reason.’ / You really think so?’ / ‘Sure do.’ […]

All ways of communication are of conventional literature. Next, we will see the evolution of teenage communication in literature.

First of all, text-messaging is the simplest way of teenage communication since each of the teenage characters has their own cell phone but it is not often to do in this story. In this story, they used it to mates, not to their parents. Text-messaging is used in some conditions. First, it is used for having a schedule of instant messaging in same time. Second, it is used for getting the information as soon as possible, by asking. Last, it is used for commenting something.

uok? seemd sad 2day

good2talk 2u last nite. cu in 2 wks. when and where? spk 2u 2nite. Dan

ru3 2nite? spk 2u l8r

had no plans for half term. have now! chat 8

In a text-messaging can appear one or more conditions.

Second, instant-messaging is usually they do in the early evening, have a schedule by text-messaging before, and chat between the teenage characters. Conversation between the girls is about their homework, also sharing the newest gossip and information about their daily life.

[…] Sam? You still there? / Yes. So, are you waiting to talk to your friends too? / No, I’ve been revising and I’m bored. I wanted someone to cheer me up. / What are you revising, then? […]

[…] Dan? You there? Dan? It’s Sam. Dan? How are you doing? / Sam is that you? Sam? You there? / Debs? Hi. How are u? / Who were you talking to? Who’s Dan? / No one. […]

Third, sending e-mail usually use for sending a story about characters’ experiences. It is not in the long form in this story. Compare to text-messaging and instant messaging, it is more longer, and it is a one-way communication.

From:sam@newshoes.com

To: butter@friedeggs.com

claudia@raginglooney.co.uk

debs@doobopdaloola.com

Cool or what! Thought I’d have to share a room but I’ve got one to myself. If this is what university life on campus is like, I’m coming here! There’s a huge swimming pool, a gym with the latest equipment and a kind of common room as well. We’ve got timetable of coaching but we get some time off everyday to go out on trips. We’re going to get taken on a bus and then it’s up to us what we get up to until it’s time to come back to camp. Seen Dan! It’s just as good as it was before. No probs there. There’s a really fit coach too! He played at Wimbledon a couple of years ago. So there’s all types of talent! Catch up with you all in the couple of days.

Those new ways are made to communicate the story in different way, but still support the plot progress. The example of they do that is they causing miscommunication problems, such as Sam and Dan become broke up because of less time of communication while they have a long-distance relationship. Those ways also introduce the short messaging words, such as “X” for kiss, “gr8” great, “l8r” later, “2nite” tonight, and “:-}” embarrassed. Therefore, those ways of communicating is suitable to this story and its plot because they are appropriate communication for teenage characters in the story and the teenage readers of the story.

Source:

Plaisted, Caroline. E-love: A story of First Love on the Internet. GPU: Jakarta, 2004.

Nilaiku jelek, hanya 66 T.T

No comment »

Semantic: first assignment

Male-female
1. Buck (male) – doe (female, but also for female rabbit)-> (antelope)
2. Boar (male) - sow (female) ->(badger, bear, guinea pig)
3. Drone (male) – queen *reproducing* or worker (female) ->(bee and ant)
4. Cock (male) - hen (female) ->(bird)
5. Bull (male) - cow (female) ->(buffalo, camel, cattle)
6. Rooster (male) - hen (female) ->(chicken)
7. Dog (male) - bitch (female) ->(dog)

8. Buck / stag (male) - doe (female) ->(deer)
9. Jack (male) - jenny (female) ->(donkey)

10. Drake (male) – duck (female) ->(duck)

11. Tercel / terzel (male) - falcon (female) ->(falcon)
12. Reynard, dog, dog fox, or tod (male) - vixen (female) ->(fox)

13. Buck / billy - doe / crone / nanny (female) ->(goat)
14. Gander (male) - goose (female) ->(goose)

15. tierce-hen (hawk)

16. Stallion / stud (male) – mare (horse and zebra)

17. Cob swan/gander (male) - pen swan (female) ->(swan)

18. Cockerel (male) - pullet (female) ->(young chicken)

19. Tiger (male) – tigress (female) -> (tiger)

20. Tomcat (male) – tabby/queen (female) ->(cat)

21. Leopard (male) – leopardess (female) ->(leopard: macan tutul)

22. Lion (male) – lioness (female) ->(lion)

23. Buck, boomer, jack (male) – doe, flyer, jill, roo (female)->(kangaroo)

24. Jack (male) – jill (female) ->(opossum)

25. Steer, bull (male) – cow (female) ->(ox)

26. Peacock (male) – peahen (female) ->(peafowl)

No comment »

Kritik sastra: Summary IN THE SHADOW OF CHANGE Bab I dan Bab II

In The Shadow of Change adalah buku yang ditulis oleh Tineke Hellwig tentang kritik feminis dalam sastra Indonesia. Buku ini merupakan buku hasil penelitiannya selama lima tahun ( 1984-1989) yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana penggambaran tokoh perempuan dalam sastra Indonesia dan sejauh mana gambaran tersebutmembantu menciptakan citra umum perempuan dalam masyarakat Indonesia. Penelitian dalam bukunya ini hanya dalam lingkup sastra modern Indonesia berupa 25 novel dan cerita panjang dari tahun 1937-1987. Dalam penelitiannya itu, penulis menemukan bahwa sastra Indonesia berpusat di Jawa dan bersifat kota dan terindustrialisasi. Sastra lebih banyak tercipta di Jawa, membuatan, produksi, penyebaran, dan kebudayaan serta sejarah yang melatar belakanginya. Pada Bab I, penulis berkonsentrasi pada teori kritik sastra, feminisme, serta memaparkan kebudayaan Indonesia. Sedangkan pada bab-bab selanjutkan, lebih pengaplikasian teori pada 25 bacaan terpilihnya. 25 bacaan terpilihnya antara lain adalah Merantau ke Deli- Hamka (1939), Canting- Arswendo Atmowiloto (1986), Layar Terkembang- Sutan Takdir Alisjabana (1937), Belenggu- Armijn Pane (1940), Sri Sumarah dan Bawuk- Umar Kayam, Burung-Burung Manyar- YB Mangunwijaya, Pada Sebuah Kapal- Nh. Dini, Dokter Haslinda- Rivai Marlaut, dan Pengakuan Pariyem- SG Linus Suryadi, serta empat novel karya pramoedya Ananta Toer yang dilarang beredar di Indonesia.

Kritik sastra feminis merupakan salah satu komponen dalam bidang interdisipliner kajian perempuan, yang di Barat dimulai sebagai suatu gerakan social pada masyarakat akar rumput. Sangat penting bagi siapapun yang hendak mengkaji perempuan dan sastra pada masa sekarang untuk mengklarifikasi posisinya. Kritik feminis meneliti bagaimana kaum perempuan ditampilkan, bagaimana suatu teks membahas relasi jender dan perbedaan jenis kelamin. Penulis menggunakan pendekatan feminis normatif, yaitu mengambil suatu perspektif yang berpusat pada perempuan untuk menganalisis kontektual. Dalam penelitiannya, penulis juga menggunakan metode fokus pada teks untuk mengkritisi teks guna member makna baru dan menyingkap kekuatan-kekuatan manipulative yang mendukung degradasi dan inferioritas kaum perempuan. Penulis dan pembaca karya sastra tunduk pada ideology-ideologi yang dominan dalam masyarakatnya. Di Indonesia, sejumlah aparat negara menyokong ideologi jender yang patriarkal, terutama pada agama dan negara yang paling fundamental. Ideologi jender yang patriarkal mendikte ketidaksetaraan di antara dua jenis kelamin di mana kaum pria bersifat superior sedangkan kaum perempuan bersifat inferior serta menjadi the other. Untuk mengetahui klaim perbedaan antara laki-laki dan perempuan, perlu diteliti proses soliasissainya dari masa anak-anak. Cara perempuan berperilaku dan berkounikasi tidak dinaggap tepat oleh kaum pria, dan perbedaan cara berinteraksi ini muncul di sejumlah novel Indonesia. Karya-karya prosa Indonesia meliputi beragam tema dalam kehidupan kaum perempuan dan laki-laki Indonesia, dan tidak diragukan lagi bahwa emansipasi perempuan juga berpengaruh di Indonesia.

No comment »

Kritik Sastra: ANALOGI VAMPIR TERHADAP SISI LAIN PEREMPUAN (Final Paper)

Kadang aku mencari tikus atau anjing atau apa saja. Aku terlalu jenuh untuk membuka mata. Tak bisa bertahan, aku begitu haus. Ah, andai aku bisa menukar jiwaku dengan

Darah!

Darah, darah, dan darah. Cuplikan narasi di atas berasal dari cerita pendek berjudul “Vampir” karya Intan Paramaditha dalam sebuah buku kumpulan cerpennya yang diterbitkan kira-kira 4 tahun yang lalu. Membayangkan tentang isinya pasti hanya fantasi tidak riil penulisnya, tetapi cuplikan tersebut sangat menarik sehingga dapat membawa kita untuk membaca cerita keseluruhannya, dan lebih jauh menganalisisnya. Ada dua pendekatan objektif yang akan yang akan dipakai dalam mengkritik karya sastra kali ini, yaitu pendekatan psikoanalisis dan kritik sastra baru (new critisicm).

Analisis pertama yang akan dipakai adalah psikoanalisis. Psikoanalisis dipakai dengan tujuan mengetahui segala tindakan logis yang mampu membuat cerita ini terlihat nyata. Analisis psikologi akan dipakai untuk menggambarkan para tokoh-tokoh serta tindakan-tindakannya dalam cerita “Vampir”. Para tokoh-tokoh tersebut adalah Saras, si Vampir, dan Irwan. Saras, tokoh ini mempunyai jiwa yang jauh dalam dirinya, sisi gelap dari jiwanya. Jiwa ini adalah id-nya Saras, dan selanjutnya akan dianalogikan sebagai si Vampir. Disebut si Vampir karena Intan Paramaditha menggambarkannya haus darah dan hidup pada malam hari seperti mindset orang kebanyakan terhadap vampir, juga selain karena “Vampir” adalah judul cerita pendek yang sedang dianalisis. Vampir adalah sosok yang ditakuti dari dunia gelap, yang biasanya adalah laki-laki, ditransformasi menjadi sisi gelap dari Saras. Sedangkan Saras adalah badan atau fisik dari si Vampir. Irwan adalah atasan di kantor Saras, yang sekali bukan jiwa ataupun badan Saras. Tetapi di dalam deskripsi si Vampir dalam cerita, Irwan dan si Vampir setipe.

Secara keseluruhan cerita, Saras dapat mengontrol id-nya sehingga hidupnya masih berjalan. Tentang cita-cita Saras menjadi dokter, di sini id-nya adalah bercita-cita menjadi dokter, keinginan terpendamnya, tetapi ia ingat superego-nya. Bahwa untuk bersekolah kedokteran, seseorang harus menyukai biologi karena itu adalah ilmu tentang tubuh manusia yang akan diperiksanya. Ada juga superego lainnya, yaitu norma bahwa harus mendengarkan kata-kata orang tua. Kata Ibu, “Kau lebih cocok jadi sekretaris ketimbang dokter.” Sehingga ego-nya, sebagai penyeimbang kehidupannya, memilih untuk menjadi sekretaris. Tentang tugas-tugas saras di luar pekerjaan kantor seharusnya,

Ia sering memberiku tugas bermain-main dengan kekuasaan. Ia sering memberiku tugas di luar yang seharusnya, seperti memintaku membuat permohonan untuk proyek sampingannya di luar kantor. Pernah pula aku ke luar kantor untuk membayar tagihan-tagihan kartu kreditnya. Aku tahu aku berhak protes, tapi untuk sementara ini aku memilih diam sambil mengevaluasi sejauh mana ia bersikap professional.

di sini id-nya adalah memprotes hal ini kepada Irwan, atasannya, tetapi memprotes tidak Saras lakukan karena manusia ini mempunyai tendensi untuk mempertahankan posisinya di kantor. Superego yang mungkin menjadi alasan adalah bahwa manusia yang sudah dewasa seharusnya mempunyai pekerjaan dan berpenghasilan, sehingga Saras tidak mau sampai kehilangan pekerjaannya.

Tentang sifat rapi dan teraturnya, dalam cerita ini tidak dimunculkan id-nya, tetapi tentu sebagai manusia mempunyai keinginan bebas, terlepas dari segala keterikatan norma kerapian dan lainnya yang adalah superego. Sehinga ego-nya berjalan, yaitu ditunjukan dengan:

…sifatku yang rajin dan serba teratur. Aku suka membuat daftar pelajaran, anggaran uang jajan, atau daftar belanja. Aku tergila-gila pada pengelompokan. Di kamarku ada kotak-kotak khusus untuk kaset dengan aliran musik berbeda. Aku bahkan tahu baju apa yang akan kupakai haru jumat dua minggu mendatang.

Hal ini berlawanan dengan Irwan yang kurang bisa memadupadankan busana formal kerja. Hari itu, Irwan memakai dasi merah mencolok dibalik jas konvensionalnya. Pilihan warna merah mungkin bisa digambarkan sebagai id-nya. Merah identik dengan api, sedangkan Irwan suka sekali bermain api di atas kekuasaan, kekayaan, dan pernikahannya. Bermain api adalah id-nya, berarti dengan memilih warna merah untuk warna dasinya. Jas konvensionalnya malah memenuhi superego kerapian seorang atasan dan gaya tebar pesona. Ini bisa menjadi perlambang bahwa di balik jasnya yang hanya untuk memenuhi nilai profesional, dia tidak profesional jauh di dalam dirinya. Dasi dan jas itu malah membuat Saras dingin kepadanya, dan membuktikan kegagalan tebar pesona Irwan. Sikap dingin Saras bisa jadi adalah displacement di alam bawah sadarnya dari id-nya untuk memiliki Irwan, muda, tampan, kaya, cerdas. Tetapi lagi-lagi ego-nya bekerja untuk menahan diri dengan mengenyahkan pikiran-pikiran bagus tentang Irwan.

Hal berikut ini juga masih berhubungan, yaitu tentang pakaian yang diseterikanya licin-licin, superego-nya mudah ditemukan dalam cerita, yaitu:

agar terlihat serasi dengan sejuknya lantai mahogani kantorku dan dindingnya yang bernuansa cokelat susu. Cokelat adalah warna klasik yang selalu terlihat elegan. Ingin terlihat profesional? Pakailah cokelat atau hitam.

Dari cuplikan di atas kita tahu bahwa superegonya adalah nilai profesional dalam bekerja, lebih tepatnya tata berbusana. Jika menghendaki id-nya yang adalah si Vampir bisa saja dia menggunakan warna merah yang adalah kesukaan si Vampir, seperti Aku terobsesi merah yang tergenang menganak sungai beraroma ikan segar.

Selanjutnya tentang ajakan ke kafe, gunjingan orang-orang kantor tentang perilaku Irwan tidak heran membuat Saras meragu karena masyarakat sangat mudah bersinggungan dengan norma. […] mati-matian menutupi hubungannya dengan beberapa perempuan (setidaknya begitu kudengar di hari pertamaku bekerja). Tidak mungkin juga Irwan akan terang-terangan mengajak Saras pergi keluar kantor bersama kalau bukan alasan bisnis. Id Irwan akan hasrat terpendamnya dengan sejumlah perempuan tidak akan diumbar di kantor, sehingga menjadikan alasan membantu laporan khusus perusahaan menjadi ajakan profesional, tanpa berbau sensual atau seksual. Berarti nilai profesionalnya sebagai seorang sekretaris di perusahaan jasa konsultan sekali lagi ditekankan sebagi superego. Sekali ego Saras adalah mengenyahkan pikiran untuk memenuhi sisi gelap dari dirinya.

Superego yang berlaku dalam masyarakat mereka pertahankan sampai tadi saja karena superego Irwan dan bahkan Saras sendiri hanya bertahan sampai di rumah Saras, tempat Irwan mulai mendekati Saras secara fisik.

Aku gemetar. Tiba-tiba kusadari ketakutan terbesarku terjadi. Aku pernah membayangkan, dan karena aku sangat profesional, aku tahu aku harus mendorongnya dengan tegas, mengusirnya bila perlu.

Tetapi di ujung cerita Saras yang mengikuti id-nya, atau si Vampir-nya. Id tersebut adalah nafsu birahinya. Id tersebut juga termasuk id-nya Irwan. Hal yang mendobrak paham bahwa vampir dan kegelapan identik dengan laki-laki. Sekarang digambarkan bahwa sebagai manusia perempuan juga mempunyai nafsu bihari, tetapi hal itu di tunjang dengan moral dan norma yang berlaku dalam sebuah tatanan masyarakat. Superego yang berlaku adalah Saras belum menikah, nilai profesional dengan atasan, dan Irwan yang sudah menikah. Tetapi hal tersebut mereka indahkan dan si Vampir mulai bekerja dalam diri Saras. Bekerja, dan si Vampir deskripsikan sebagai:

Lihatlah leher laki-laki itu. Sukakah kau pada es krim vanilla? Kecaplah kebeuannya dengan lihatmu dan ia akan lumer dalam mulut […] Di pucuk es krim ada ceri bulat mengilat. Buah menggoda, menantang bahaya. Akankah aku jatuh? Tapi aku begitu menginginkannya. Aku si penghisap penyedot kehidupan./ Lehernya begitu indah. Dan aku begitu haus / Darah

Dari segala peristiwa yang dialami para tokoh dalam cerita “Vampir”, kita dapat menepis masalah-masalah yang muncul sebagai fiktif semata karena sudah dipertimbangkan oleh para tokoh tindakan-tindakannya. Apakah ada konsekuensi logis jika aku menolak? Para tokoh ingin menelur yang disimpannya dalam diri sehingga bertemu dalam analogi vampir dan terbukanya sisi gelap hasrat birahi perempuan yang tertutup karena adanya pikiran bahwa itu hanya punya laki-laki.

Analisis kedua mengunakan pendekatan kritik sastra baru, akan dilihat dari aspek ironi, sudut pandang, dan latar. Ada beberapa ironi, dua sudut pandang, dan dua latar yang akan dibahas lebih lajut serta pengaruhnya terhadap jalan cerita serta maknanya.

Sudut pandang menentukan kontrol dalam cerita, yang dipakai dalam narasi adalah sudut pandang orang pertama yang tahu segalanya. Orang pertama dalam cerita “Vampir” berganti-gantian antara Saras dan si vampir, terlihat lebih sering bernarasi aku adalah Saras, tetapi lebih mendominasi aku adalah si Vampir. Walau Aku-nya Saras mengetahu segalanya, dari perasaannya sendiri sampai tindak tanduk Irwan, aku-nya Saras tidak mendominasi karena cenderung menggunakan kata-kata statif, seperti: membaca keraguanku dan mencoba menekankan bahwa ajakannya bersifat rasional dan profesional, bukan sensual atau seksual. Setelah menimbang-nimbang, kuputuskan pergi bersamanya. Kita tidak hidup sendiri dia dunia ini sehingga kita harus mengikuti norma. Hal ini jugalah yang menunjukan bahwa Saras lebih nyata walaupun tampak sering terdominasi oleh faktor lain, karena superego nilai profesional atau juga karena id kesempatan bersama Irwan. Dari dua factor tersebut, dapat dikatakan bahwa Saras dingin terhadap Irwan.

Tentu saja ada satu kelemahannya: beristri. Baginya ini kelemahan karena ia harus mati-matian menutupi hubungannya dengan beberapa perempuan (setidaknya begitu kudengar di hari pertamaku bekerja). Bagiku ini juga kelemahan karena aku harus berusaha menjaga jarak mengingat intensitas interaksiku setiap hari engannya yang mungkin bisa menjerumuskan. Aku pernah mendengar tentang perilaku seks di dunia kerja, tapi aku tidak pernah berselera melanggar kode etik dan norma-norma.

Id atau si-Vampir lebih mendominasi dalam cerita karena penggunaan kata-kata aktif dan lebih dinamik berani: Rumah bordil — Kupu-kupu sepertinya aku memang senang remang-remang, baying-bayang, halusinasi: Rumah meriah di dalam hutan segala serigala. Kau tak akan tahu apa pun sebelum masuk ke dalam.

Ada yang aneh juga ketika membaca cerita pendek ini, si Vampir dibuka dan ditutup dengan:

Bacalah ia dari belakang dan kau akan menemukan aku./ Kami datang dari tempat yang sama, sempit, gelap, basah, merah. Tapi ia tak menginginkanku karena ia kira aku menyusu ibu srigala.

“Ia tidak pergi kerja hari ini.”/ Bacalah ia dari belakang dan kau akan menemukan aku.

Penggunaan kata ganti tokoh-tokoh dalam narasi adalah ia, kau, kami, dan aku. Ia yang dimaksud adalah Irwan, kau adalah pembaca, kami adalah Saras dan Irwan, sedangkan aku adalah Saras. Dari kata ganti yang digunakan, kita dapat mengetahui kekuasaan relasi yang dimiliki oleh si empunya narasi, yaitu Saras dan si Vampir. Dari kata ganti ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa ini terjadi di masa lampau karena di awal narasi si Vampir sudah mengetahui jelas yang terjadi.Kata ganti ia dan kami menandakan rasa memiliki si Vampir terhadap Irwan. Rasa memiliki, bukan rasa saling memiliki karena si Vampir menganggap bahwa Irwan adalah pencuri.

Masuklah, masuklah ke dalam pagar wahai para pencuri. Mari berlompat-lompat, jangan mengendap-endap. Lihat apa yang bisa kau cicipi di kebun buah. Aku ikut karena aku juga pencuri, pencuri hidup dan mati, dan ‘kan kujadikan kau / hantu.

Setelah kejadian di tempat tinggal Saras, sisi gelap Irwan disebut “hantu”. Hantu dan vampir adalah makhluk seram yang berasal dari sisi gelap. Si Vampir merasa memiliki “hantu” Karena si Vampir-lah yang menjadikan Irwan sebagai “hantu”. Rasa memiliki tidak sampai di situ saja, ada kepentingan juga di belakangnya. Dengan latar belakang Irwan yang bagus, tidak menutup kemungkinan Saras mempunyai yang manusia inginkan, yaitu kekayaan, kekuasaan, serta pria tampan mungkin. Jadi si Vampir tidak hanya berkutat dengan hasrat seksual Saras, tetapi juga material. Hal ini dibuktikan dengan Saras dalam narasinya tidak menggubris sama sekali mengenai rekan kerjanya yang lain, berarti dia memang menargetkan Irwan sebagai “hantu” yang sesuai dengan vampir. Itu adalah halyang lumrah juga.

Kalimat-kalimat narasi dari si Vampir yang menggantung dan terpenggal-penggal membuat rasa penasaran pembaca menjadi-jadi sehingga muncul sikap suka mengontrolnya si Vampir. Di balik Saras ada sisi gelap yang adalah si Vampir yang terungkap dan menjadi satu, tidak berbeda lagi, karena Saras akhirnya mengikuti si Vampir. Hasratnya terbuka, eksistensi jiwa.

Latar dapat menentukan karakteristik dari tokoh-tokoh di dalam sebuah cerita. Latar yang muncul di dalam cerita “Vampir” adalah latar waktu dan latar tempat. Dua latar ini cukup membangun atmosfir peristiwa.

Peristiwa mengambil waktu hanya sehari. Dimulai dengan office hour sampai harus berinteraksi di luar kantor dengan atasan pada malam hari. Office hour Saras gunakan untuk bernarasi, memperkenalkan dirinya dan Irwan, waktu adalah hal yang lazim untuk atasan berinteraksi dengan sekretarisnya. Waktu ini adalah waktunya Saras, bukan si Vampir yang selayaknya hanya muncul pada malam hari, walau di kantor adalah tempatnya mencari mangsa. Mangsa yang dari semasa sekolah menengah sudah dia incar. Sedangkan pada malam hari yang merupakan klimaks cerita “Vampir” menekankan adanya hubungan gelap di antar mereka dan menekankan si Vampir.

Aku hidup gua-gua pekat malam, terselimuti kabut abu-abu, tak kenal pagi dan embun […]Aku kupu-kupu hitam bersayap beludru, terbang ke dalam lorong-lorong dan terseret pusaran malam

Latar tempat yang dipakai ada tiga, yaitu kantor, kafe, dan rumah. Ketiga tempat ini berkronologis, runtun. Kantor, seperti yang sudah dibahas di latar waktu, hanya ada pada siang atau office hour. Tempat yang mempunyai peraturan dan sistem norma, yang membuat gerak-gerik si Vampir terbatasi sehingga hanya berkutat sekitar Saras. Di kantor ini pulalah ada Irwan, kantor menjadi tempat Saras dan Irwan bertemu, dan memang di kantorlah hasrat si Vampir mencari mangsa berjalan. Selanjutnya adalah kafe.

Maka pergilah kami ke sebuah kafe yang memutar musik jazz tahun 1950-an. Bernaung cahaya redup, kami duduk di sofa beludru yang begitu besar sehingga aku merasa bisa tenggelam di dalamnya. Jika tak ada kopi mungkin aku akan mengantuk. Mengapa Irwan memilih tempat seperti ini untuk membicarakan proyek kantor? / Rumah bordil […]

Kafe adalah transisi si Vampir atas penguasaan diri Saras. Si Vampir sendiri mengistilahkan kafe itu sebagai rumah bordil. Rumah yang menjadi para lelaki hidung belang mencari mangsa. Tidak tepat juga laki-laki saja, karena si Vampir dalam diri Saras juga menginginkannya. Buktinya walau ragu, Saras tetap menerma ajakan Irwan untuk ke kafe. Semakin malam, transisi semakin menjadi-jadi, berlabuhlah mangsa si Vampir dan si Vampir sendiri di rumah Saras. Mungkin kalau masuk ke rumah bordil saja orang bisa menahan hasrat birahinya, tetapi rumah Saras pelabuhan pas yang pas. Tidak dapat ditahan lagi bila sudah merasa pas. Lalu ia duduk di kursi rotan konvensionalku minum segelas air putih. Dibukanya satu kancing kemejanya dan dilonggarkannya dasinya – dasi yang benar-benar salah. Rumah adalah tempat si Vampir mendapatkan mangsanya, menjadikannya “hantu”, dan Saras mendapatkan kekuasaan serta kekayaan Irwan.

Keseluruhan cerita pendek “Vampir” mengusung isu image sekretaris konvensional dengan segala keteraturan dan sikap profesionalitasnya dalam bungkus vampir dan image tentang seks dalam ruang lingkup pekerjaan menjadi lebih menarik dengan analogi vampir. Sikap “lurus-lurus saja” Saras dapat dijadikan bahan peledak dan hukum masyarakat tentang perilaku hubungan kerja menjadi pemicu ledakan dalam cerita ini. Tidak menutup-nutupi melainkan menguak dari segi sisi gelap dan keinginan terpendam dari sisi perempuan.

No comment »

Sastra Anak: The Water Babies (score: C)

“Do what thou dost as if the earth were heaven, and thy last day the day of judgment”

Cuplikan kata-kata di atas adalah ucapan Charles Kingsley tentang perbudakan. Dia menulis novel berjudul “The Water Babies” tentang perbudakan anak di Inggris tahun 1800-an sesudah Revolusi Industri. Charles Kingsley sendiri adalah seorang sejarahwan dan penulis sastra[1]. Novel ini pertama diterbitkan tahun 1863. Novel menggambarkan perbudakan anak yang ditransformasi menjadi bacaan fantasi tentang bayi air dan peri. Charles Kingsley menggambarkan tokoh Tom, sebagai anak yang kurang sopan santun, kotor, dan tidak diperlakukan baik dengan sudut pandang aku-an orang ketiga tahu segala, bahkan dari bisikan hati Tom. Semua narasi merupakan kata-kata Tom dalam hati yang lelah atas kehidupannya sebagai budak anak, lebih tepatnya pembersih cerobong asap pada rumah-rumah mewah bergaya New Victorian, yang sesungguhnya benar ada masa seperti itu di Inggris.

Tom diperlakukan secara kasar oleh tuannya, Mr Grimes. Ketika Tom sedang membersihkan cerobong asap di rumah mewah Sir John Harthover, Tom terjatuh dari cerobong asap dan mendarat sebuah kamar yang serba putih. Tom memperhatikan kamar yang serba bersih.

The room was all dressed in white, - white window-curtains, white bed-curtains, white furniture, and white walls, with just a few lines of pink here and there. The carpet was all over gay little flowers; and the walls were hung with pictures in gilt frames, which amused Tom very much. There were pictures of ladies and gentlemen, and pictures of horses and dogs. The horses he liked; but the dogs he did not care for much, for there were no bull-dogs among them, not even a terrier. But the two pictures which took his fancy most were, one a man in long garments, with little children and their mothers round him, who was laying his hand upon the children’s heads. That was a very pretty picture, Tom thought, to hang in a lady’s room. For he could see that it was a lady’s room by the dresses which lay about. [TWB, chapter 1, p. 7]

Mungkin bahkan Tom tidak pernah mengenal kata bersih karena dia bingung sekali ketika melihat kamar itu. Ternyata kamar itu adalah kamar anak perempuan Sir John, Ellie, Ellie kaget melihat Tom dan berteriak, tersentak seluruh orang di rumah menuju kamar itu. Dia dianggap melakukan sesuatu yang tidak semestiya di kamar itu oleh orang-orang di rumah itu. Kemudian dia berlari. Berlari terus sampai akhirnya dia masuk ke dalam sungai. Dia tidak mati, melainkan menjadi seorang bayi air. Dari situ, Tom memulai pelajaran moral yang tidak pernah dia dapatkan selama menjadi seorang anak manusia di daratan. Dia memulai hal itu dengan seekor serangga yang mengupas kulitnya, caddis fly. Tom sangat menikmati kehidupannya bersama bayi air lainnya dan juga membuktikan bahwa dirinyadapat menjadi makhluk yang berbudi. Pemimpinnya di dunia baru adalah para peri bernama Mrs. Doasyouwouldbedoneby, Mrs. Bedonebyasyoudid, dan Mother Carey.

Ternyata Tom menghadapi kesulitan setelah Tom mencuri dan makan terlalu banyak permen laut. Kemudian Tom diambil oleh salah seorang ibu peri bernama Mrs Bedonebyasyoudid. Kemudian Tom diajarkan oleh Ellie, sekarang mereka sama bersih dan “putih”nya. Itu Ellie yang sama dengan Ellie yang Tom temui ketika Tom terjatuh dari cerobong asap kamar Ellie. Ellie telah menjadi bayi air juga, Ellie ternyata ke batu di sungai dan diberikan sepasang sayap oleh peri.

Mr Grimes, tuannya pun jatuh juga ke sungai, dan bertualang juga. Setelah Tom bertahun-tahun telah diajarkan moralitas oleh Ellie dan para ibu peri, Tom diperintahkan untuk berkeliling ke ujung dunia sendirian untuk mencoba untuk membantu manusia yang dihukum karena berlaku senonoh selama hidupnya. Di tempat itu ada Mr Grimes, dan akhirnya Tom menolongnya. Dengan membuktikan Tom dapat melakukan sesuatu yang dia tidak suka merupakan sesuatu yang benar, Tom dapat kembali menjadi manusia di darat.

Tom went home with Ellie on Sundays, and sometimes on week-days, too; and he is now a great man of science, and can plan railroads, and steam-engines, and electric telegraphs, and rifled guns, and so forth; and knows everything about everything…And all this from what he learnt when he was a water-baby, underneath the sea. [TWB, chapter 8, p.16]

Novel “The Water Babies” menekankan cerita pada isu perbudakan anak sebagai latar belakang sejarah cerita novel tersebut. Ulasan buku ini akan menggunakan pendekatan obejektif, yaitu kritik sastra baru (new criticism), berarti kembali ke teks cerita itu sendiri untuk mendalaminya. Kali ini kita akan membatasi bahasan ini pada dua hal, yaitu gambaran perbudakan anak dan deskripsi anak seharusnya hidup layak. Makna cerita ini tidak mengada-ada dan bukan fantasi penulis semata. Masalah sosial yang dibawa dalam novel ini cukup dekat dengan kehidupan keseharian kita.

Pertama adalah kontroversi di balik novel ini yang tidak lain adalah isu perbudakan anak. Melihat kira-kira pembuata novel ini adalah sesudah revolusi industri. Masa terjadinya peningkatan populasi, tetapi kehidupan anak-anak yang hidup di masa itu tidak meningkat karena ada revolusi industri, lebih parahnya lagi moralitas menurun, tidak ada lagi pendidikan informal dari keluarga, aplagi dari sekolah formal. Melihat Tom, kita dapat mengetahui tidak adanya kesempatan pendidikan, bahkan sedini mungkin anak kecil seumuran Tom bekerja guna membiaya hidup, lebih pahitnya lagi untuk membiaya hidup tuannya. Tom hidup dengan tuannya yang menyuruh dia bekerja, Mr Grimes. Tidak diceritakannya orang tua Tom dan Tom hidup dengan Mr Grimes dapat ditarik kesimpulan tentang para orang tua kelas ekomoni dan sosial bawah, merelakan anaknya untuk bekerja atau bahkan anaknya diserahkan kepada orang lain untuk menghasilkan uang. Tom dipekerjakan sebagai pembersih cerobong asap karena rumah gaya Vitoria mempunyai cerobong-cerobong asap, dan yang membersihkannya harus yang berbadan kecil. Tom masih kecil tetapi mengerjakan pekerjaan dewasa yang badannya lebih besar dan kuat. Apalagi di dalam novel tidak diceritakan tentang upahTom. Perbudakan anak dari mata kelas menengah ke atas, yaitu Sir John Harthover. Dari novel kita tahu penggunaan jasa Tom melalui Mr Grimes oleh Sir John Harthover. Kelas seperti itu akan senang dengan kehadiran jasa murah seperti yang dilakukan Mr Grimes. Ketika anak kecil pembersih sedikit melakukan kesalahan, seperti Tom jatuh ke kamar Ellie, kelas tersebut mempunyai tendensi pikiran buruk atas anak yang tidak pernah mendapat pendidikan etika. Tom dikira sengaja masuk ke kamar Ellie, dan memperlakukannya seakan melihat perampok kecil dan berteriak serta ingin menangkap.

Mr. Grimes was to come up next morning to Sir John Harthover’s, at the Place, for his old chimney- sweep was gone to prison, and the chimneys wanted sweeping. And so he rode away, not giving Tom time to ask what the sweep had gone to prison for, which was a matter of interest to Tom, as he had been in prison once or twice himself. [TWB, chapter 1, p. 1]

Perlakuan yang seharusnya terhadap anak kecil bahkan muncul di bagian ini dari buku ini. Pertama, dari Tom masih menjadi manusia darat. Tom diperlakukan secara semena-mena oleh Mr Grimes. Seharusnya semua manusia dilahirkan secara merdeka dan setara dalam martabat dan hak. Jadi, seharusnya Tom diperlakukan manusiawi, tidak semena-mena dan diinjak hak-haknya dengan dipekerjakan sebagai pembersih cerobong asap. Di sini juga menggugah pemerintahan agar bekerja juga untuk rakyat kecil seperti Tom.

Kedua, kelayakan. Tom yang kotor, tidak pernah mengenal kebersihan diri. Melihat Ellie dan kamarnya yang bersih, Tom menyadari kekotorannya yang membuatnya keinginan untuk menjadi bersih.

[…] “I must be clean, I must be clean. And all of a sudden he found himself, not in the outhouse on the hay, but in the middle of a meadow, over the road, with the stream just before him, saying continually, “I must be clean, I must be clean.” […] he dipped his hand in and found it so cool, cool, cool; and he said, “I will be a fish; I will swim in the water; I must be clean, I must be clean.”[TWB, chapter 2, p. 4]

Setiap manusia berhak mendapat kesehatan yang layak. Dengan kotor, Tom menghadapi masalah kesehatan. Kotor juga di sini dapat berarti kehidupan kelam dan setelah dia jatuh ke sungai dan menjadi bersih, berarti dia memulai kehidupan cerahnya. Dengan mengetahui kotor, kita dapat mengetahui bersih, begitu juga sebaliknya.

Ketiga, tidak bersalah. Tentang Tom yang dituduh hanya karena jatuh di cerobong asap kamar Ellie. Setiap manusia dianggap tidak bersalah sampai dia terbukti melakukan sesuatu. Sedangkan dalam novel “The Water Babies” Tom langsung diteriaki seorang suster perawat yang masuk ke kamar Ellie dan orang-orang berlarian mengejar Tom. Perindungan dari pemerintah akan pekerja anak dan anak-anak secara keseluruhan masih kurang. Pandangan masyarakat pun memperparah para pekerja anak ini sehingga tidak ada sama sekali yang memperhatikan mereka. Masyarakat kelas menengah ke atas bersikap tidak mau tahu. Anak kecil dipekerjakan tanpa upah yang cukup dan tenaga yang banyak.

Keempat, menjadi diri sendiri. Selain setiap manusia berhak untuk hidup, semua manusia juga membutuhkan kebebasan individual. Tom selama ini dikekang akan tugas dan oleh tuannya.

For the first time in his life, he felt how comfortable it was to have nothing on him but himself. But he only enjoyed it: he did not know it, or think about it; just as you enjoy life and health, and yet never think about being alive and healthy; and may it be long before you have to think about it! [TWB, chapter 3, p. 1]

Di dunia bawah air, dia dapat menjadi dirinya sendiri. Semua yang menderita di air dapat menjadi bebas berekspresi di dalam air, dengan tentunya masih harus mengikuti peraturan kebaikan. Kebebasan ini dapat membuatnya belajar dari pengalaman sehingga dapat menjadi manusia yang lebih baik.

Kelima, kejujuran dan keberanian. Kejujuran Tom dalam bertutur kata sering dianggap Mr Grimes sebagai pembelotan. Sehingga kejujuran dan keberanian Tom yang selama ini terkekang, lebih muncul di dunia bawah air.

And it is quite certain that, when a man becomes a confirmed poacher, the only way to cure him is to put him under water for twenty-four hours, like Grimes. So when you grow to be a big man, do you behave as all honest fellows should; and never touch a fish or a head of game which belongs to another man without his express leave; and then people will call you a gentleman, and treat you like one; and perhaps give you good sport: instead of hitting you into the river, or calling you a poaching snob.[TWB, chapter 4, p.2]

Kejujuran dan keberaniannya, membuat dia saat kembali jadi manusia, menjadi manusia yang lebih beradab. Bisa dekat dengan Ellie dan diterima di rumah Ellie, serta menjadi “the great man of science.”

Keenam, bermoral. Dalam novel ini anak harus bermoral. Manusia berkembang otaknya sehingga itu yang membedakan manusia dari hewan. Tidak heran manusia dapat berdegradasi menjadi hewan bilan hidup terus-menerus tanpa bermoral.

If he says that things cannot degrade, that is, change downwards into lower forms, ask him, who told him that water-babies were lower than land-babies? But even if they were, does he know about the strange degradation of the common goose-barnacles, which one finds sticking on ships’ bottoms; or the still stranger degradation of some cousins of theirs, of which one hardly likes to talk, so shocking and ugly it is? [TWB, Chapter 2, p. 10]

Anak harus diberi pendidikan, pendidikan membuatnya menjadi manusia. Maksudnya adalah upaya ikut serta keluarga dalam mendidik sedini mungkin, tidak melepaskannya pada orang alin untuk bekerja dan bekerja saja. Dalam cerita ini, Tom di dunia bawah air diajari pelajaran moralnya oleh para peri. Belajar tidak perlu sesuatu yang formal di kelas yang penting maksa esensial di dalamnya. To banyak belajar dari hewan-hewan yang seharusnya menurut ilmu pengetahuan alam adanya di darat, seperti monyet menjadi monyet air, tupai menjadi tupai air, dan berang-berang

Ketujuh, rasa persahabatan. Dia telah belajar dari hewan-hewan air. Tetapi sayangnya, dia sangat suka berburu dan gangguan binatang, hanya untuk kesenangan semata. Hewan-hewan air itu pun segera jauhkan diri dari Tom, kemudian Tom kesepian.

“No!” it said, “you cannot catch me. I am a dragon-fly now, the king of all the flies; and I shall dance in the sunshine, and hawk over the river, and catch gnats, and have a beautiful wife like myself. I know what I shall do. Hurrah!” And he flew away into the air, and began catching gnats. / “Oh! come back, come back,” cried Tom, “you beautiful creature. I have no one to play with, and I am so lonely here. If you will but come back I will never try to catch you.”[TWB, chapter 3, p.4]

Akhirnya dia bertemu dengan capung yang menjadi temannya dan memberitahu dia fakta bahwa hewan-hewan air namun tidak begitu menyukai sikap Tom. Dari cerita ini, kita dapat mengambil intinya, yaitu perlakukanlah orang sebagimana kita ingin diperlakukan.

Kedelapan, rasa puas. Tom menghadapi kesulitan setelah Tom mencuri dan makan terlalu banyak permen laut. Tom telah diajarkan untuk bertindak sperlunya. Segala tindakan harus untuk kebaikan. Tetapi kali ini Tom terlalu mengingin sesuatu. Dari bagian ini kita diajarkan untuk berpuas diri dengan yang kita miliki, dan tidak berharap lebih terhadap sesuatu. Mencuri dan permen bisa dikatakan sesuatu yang adsar. Moral yang harus dijauhi Karen ada hukuman dan konsekuensi sakit gigi. Moral ini yang harus diajarkan pada anak sejaka usia dini.

Kesembilan. Kebajikan. Kejahatan tidak boleh dibalas dengan kejahatan. Itulah kurang lebih yang dijarka Ellie dan para ibu peri kepada Tom. Perjalanan Tom sendirian ke ujung dunia membuktikan bahwa dia layak menjadi manusia darat dengan moral yang terus meningkt dengan ‘membantu seseorang dia tidak suka’.

“The Water Babies” adalah sebuah karya menarik yang membawa isu perbiudakan anak yang mempersuasif pembaca agat memperlakukan anak kecil, terutama para anak kecil pekerja sebagaimana layaknya manusia dengan derajat setara di depan Tuhan. Meskipun isu yang diangkat hanya pada permukaan isu perbudakan anak di Inggris 1800-an, tetapi novel ini juga memberi contoh pelajaran moralitas dan cara memperlakukan anak kecil. Aspek moralitas dan petualangan berhasil dijadikan satu dari sudut pandang orang ketiga tahu segalanya. Tom sebagai tokoh utama berhasil mendapat pelajaran dalam hidupnya dan memulai babak baru sebagai “the great man of science” dalam hidupnya.

Sources:

Kingsley, Charles. The water Babies. www.bibliomania.com taken 14 December 2008

–. Charles Kingsley. www.wikipedia.com. taken 15 December 2008


[1] www.wikipedia.com/charles-kingsley taken on 15 December 2008.

No comment »