“Do what thou dost as if the earth were heaven, and thy last day the day of judgment”
Cuplikan kata-kata di atas adalah ucapan Charles Kingsley tentang perbudakan. Dia menulis novel berjudul “The Water Babies” tentang perbudakan anak di Inggris tahun 1800-an sesudah Revolusi Industri. Charles Kingsley sendiri adalah seorang sejarahwan dan penulis sastra. Novel ini pertama diterbitkan tahun 1863. Novel menggambarkan perbudakan anak yang ditransformasi menjadi bacaan fantasi tentang bayi air dan peri. Charles Kingsley menggambarkan tokoh Tom, sebagai anak yang kurang sopan santun, kotor, dan tidak diperlakukan baik dengan sudut pandang aku-an orang ketiga tahu segala, bahkan dari bisikan hati Tom. Semua narasi merupakan kata-kata Tom dalam hati yang lelah atas kehidupannya sebagai budak anak, lebih tepatnya pembersih cerobong asap pada rumah-rumah mewah bergaya New Victorian, yang sesungguhnya benar ada masa seperti itu di Inggris.
Tom diperlakukan secara kasar oleh tuannya, Mr Grimes. Ketika Tom sedang membersihkan cerobong asap di rumah mewah Sir John Harthover, Tom terjatuh dari cerobong asap dan mendarat sebuah kamar yang serba putih. Tom memperhatikan kamar yang serba bersih.
The room was all dressed in white, - white window-curtains, white bed-curtains, white furniture, and white walls, with just a few lines of pink here and there. The carpet was all over gay little flowers; and the walls were hung with pictures in gilt frames, which amused Tom very much. There were pictures of ladies and gentlemen, and pictures of horses and dogs. The horses he liked; but the dogs he did not care for much, for there were no bull-dogs among them, not even a terrier. But the two pictures which took his fancy most were, one a man in long garments, with little children and their mothers round him, who was laying his hand upon the children’s heads. That was a very pretty picture, Tom thought, to hang in a lady’s room. For he could see that it was a lady’s room by the dresses which lay about. [TWB, chapter 1, p. 7]
Mungkin bahkan Tom tidak pernah mengenal kata bersih karena dia bingung sekali ketika melihat kamar itu. Ternyata kamar itu adalah kamar anak perempuan Sir John, Ellie, Ellie kaget melihat Tom dan berteriak, tersentak seluruh orang di rumah menuju kamar itu. Dia dianggap melakukan sesuatu yang tidak semestiya di kamar itu oleh orang-orang di rumah itu. Kemudian dia berlari. Berlari terus sampai akhirnya dia masuk ke dalam sungai. Dia tidak mati, melainkan menjadi seorang bayi air. Dari situ, Tom memulai pelajaran moral yang tidak pernah dia dapatkan selama menjadi seorang anak manusia di daratan. Dia memulai hal itu dengan seekor serangga yang mengupas kulitnya, caddis fly. Tom sangat menikmati kehidupannya bersama bayi air lainnya dan juga membuktikan bahwa dirinyadapat menjadi makhluk yang berbudi. Pemimpinnya di dunia baru adalah para peri bernama Mrs. Doasyouwouldbedoneby, Mrs. Bedonebyasyoudid, dan Mother Carey.
Ternyata Tom menghadapi kesulitan setelah Tom mencuri dan makan terlalu banyak permen laut. Kemudian Tom diambil oleh salah seorang ibu peri bernama Mrs Bedonebyasyoudid. Kemudian Tom diajarkan oleh Ellie, sekarang mereka sama bersih dan “putih”nya. Itu Ellie yang sama dengan Ellie yang Tom temui ketika Tom terjatuh dari cerobong asap kamar Ellie. Ellie telah menjadi bayi air juga, Ellie ternyata ke batu di sungai dan diberikan sepasang sayap oleh peri.
Mr Grimes, tuannya pun jatuh juga ke sungai, dan bertualang juga. Setelah Tom bertahun-tahun telah diajarkan moralitas oleh Ellie dan para ibu peri, Tom diperintahkan untuk berkeliling ke ujung dunia sendirian untuk mencoba untuk membantu manusia yang dihukum karena berlaku senonoh selama hidupnya. Di tempat itu ada Mr Grimes, dan akhirnya Tom menolongnya. Dengan membuktikan Tom dapat melakukan sesuatu yang dia tidak suka merupakan sesuatu yang benar, Tom dapat kembali menjadi manusia di darat.
Tom went home with Ellie on Sundays, and sometimes on week-days, too; and he is now a great man of science, and can plan railroads, and steam-engines, and electric telegraphs, and rifled guns, and so forth; and knows everything about everything…And all this from what he learnt when he was a water-baby, underneath the sea. [TWB, chapter 8, p.16]
Novel “The Water Babies” menekankan cerita pada isu perbudakan anak sebagai latar belakang sejarah cerita novel tersebut. Ulasan buku ini akan menggunakan pendekatan obejektif, yaitu kritik sastra baru (new criticism), berarti kembali ke teks cerita itu sendiri untuk mendalaminya. Kali ini kita akan membatasi bahasan ini pada dua hal, yaitu gambaran perbudakan anak dan deskripsi anak seharusnya hidup layak. Makna cerita ini tidak mengada-ada dan bukan fantasi penulis semata. Masalah sosial yang dibawa dalam novel ini cukup dekat dengan kehidupan keseharian kita.
Pertama adalah kontroversi di balik novel ini yang tidak lain adalah isu perbudakan anak. Melihat kira-kira pembuata novel ini adalah sesudah revolusi industri. Masa terjadinya peningkatan populasi, tetapi kehidupan anak-anak yang hidup di masa itu tidak meningkat karena ada revolusi industri, lebih parahnya lagi moralitas menurun, tidak ada lagi pendidikan informal dari keluarga, aplagi dari sekolah formal. Melihat Tom, kita dapat mengetahui tidak adanya kesempatan pendidikan, bahkan sedini mungkin anak kecil seumuran Tom bekerja guna membiaya hidup, lebih pahitnya lagi untuk membiaya hidup tuannya. Tom hidup dengan tuannya yang menyuruh dia bekerja, Mr Grimes. Tidak diceritakannya orang tua Tom dan Tom hidup dengan Mr Grimes dapat ditarik kesimpulan tentang para orang tua kelas ekomoni dan sosial bawah, merelakan anaknya untuk bekerja atau bahkan anaknya diserahkan kepada orang lain untuk menghasilkan uang. Tom dipekerjakan sebagai pembersih cerobong asap karena rumah gaya Vitoria mempunyai cerobong-cerobong asap, dan yang membersihkannya harus yang berbadan kecil. Tom masih kecil tetapi mengerjakan pekerjaan dewasa yang badannya lebih besar dan kuat. Apalagi di dalam novel tidak diceritakan tentang upahTom. Perbudakan anak dari mata kelas menengah ke atas, yaitu Sir John Harthover. Dari novel kita tahu penggunaan jasa Tom melalui Mr Grimes oleh Sir John Harthover. Kelas seperti itu akan senang dengan kehadiran jasa murah seperti yang dilakukan Mr Grimes. Ketika anak kecil pembersih sedikit melakukan kesalahan, seperti Tom jatuh ke kamar Ellie, kelas tersebut mempunyai tendensi pikiran buruk atas anak yang tidak pernah mendapat pendidikan etika. Tom dikira sengaja masuk ke kamar Ellie, dan memperlakukannya seakan melihat perampok kecil dan berteriak serta ingin menangkap.
Mr. Grimes was to come up next morning to Sir John Harthover’s, at the Place, for his old chimney- sweep was gone to prison, and the chimneys wanted sweeping. And so he rode away, not giving Tom time to ask what the sweep had gone to prison for, which was a matter of interest to Tom, as he had been in prison once or twice himself. [TWB, chapter 1, p. 1]
Perlakuan yang seharusnya terhadap anak kecil bahkan muncul di bagian ini dari buku ini. Pertama, dari Tom masih menjadi manusia darat. Tom diperlakukan secara semena-mena oleh Mr Grimes. Seharusnya semua manusia dilahirkan secara merdeka dan setara dalam martabat dan hak. Jadi, seharusnya Tom diperlakukan manusiawi, tidak semena-mena dan diinjak hak-haknya dengan dipekerjakan sebagai pembersih cerobong asap. Di sini juga menggugah pemerintahan agar bekerja juga untuk rakyat kecil seperti Tom.
Kedua, kelayakan. Tom yang kotor, tidak pernah mengenal kebersihan diri. Melihat Ellie dan kamarnya yang bersih, Tom menyadari kekotorannya yang membuatnya keinginan untuk menjadi bersih.
[…] “I must be clean, I must be clean. And all of a sudden he found himself, not in the outhouse on the hay, but in the middle of a meadow, over the road, with the stream just before him, saying continually, “I must be clean, I must be clean.” […] he dipped his hand in and found it so cool, cool, cool; and he said, “I will be a fish; I will swim in the water; I must be clean, I must be clean.”[TWB, chapter 2, p. 4]
Setiap manusia berhak mendapat kesehatan yang layak. Dengan kotor, Tom menghadapi masalah kesehatan. Kotor juga di sini dapat berarti kehidupan kelam dan setelah dia jatuh ke sungai dan menjadi bersih, berarti dia memulai kehidupan cerahnya. Dengan mengetahui kotor, kita dapat mengetahui bersih, begitu juga sebaliknya.
Ketiga, tidak bersalah. Tentang Tom yang dituduh hanya karena jatuh di cerobong asap kamar Ellie. Setiap manusia dianggap tidak bersalah sampai dia terbukti melakukan sesuatu. Sedangkan dalam novel “The Water Babies” Tom langsung diteriaki seorang suster perawat yang masuk ke kamar Ellie dan orang-orang berlarian mengejar Tom. Perindungan dari pemerintah akan pekerja anak dan anak-anak secara keseluruhan masih kurang. Pandangan masyarakat pun memperparah para pekerja anak ini sehingga tidak ada sama sekali yang memperhatikan mereka. Masyarakat kelas menengah ke atas bersikap tidak mau tahu. Anak kecil dipekerjakan tanpa upah yang cukup dan tenaga yang banyak.
Keempat, menjadi diri sendiri. Selain setiap manusia berhak untuk hidup, semua manusia juga membutuhkan kebebasan individual. Tom selama ini dikekang akan tugas dan oleh tuannya.
For the first time in his life, he felt how comfortable it was to have nothing on him but himself. But he only enjoyed it: he did not know it, or think about it; just as you enjoy life and health, and yet never think about being alive and healthy; and may it be long before you have to think about it! [TWB, chapter 3, p. 1]
Di dunia bawah air, dia dapat menjadi dirinya sendiri. Semua yang menderita di air dapat menjadi bebas berekspresi di dalam air, dengan tentunya masih harus mengikuti peraturan kebaikan. Kebebasan ini dapat membuatnya belajar dari pengalaman sehingga dapat menjadi manusia yang lebih baik.
Kelima, kejujuran dan keberanian. Kejujuran Tom dalam bertutur kata sering dianggap Mr Grimes sebagai pembelotan. Sehingga kejujuran dan keberanian Tom yang selama ini terkekang, lebih muncul di dunia bawah air.
And it is quite certain that, when a man becomes a confirmed poacher, the only way to cure him is to put him under water for twenty-four hours, like Grimes. So when you grow to be a big man, do you behave as all honest fellows should; and never touch a fish or a head of game which belongs to another man without his express leave; and then people will call you a gentleman, and treat you like one; and perhaps give you good sport: instead of hitting you into the river, or calling you a poaching snob.[TWB, chapter 4, p.2]
Kejujuran dan keberaniannya, membuat dia saat kembali jadi manusia, menjadi manusia yang lebih beradab. Bisa dekat dengan Ellie dan diterima di rumah Ellie, serta menjadi “the great man of science.”
Keenam, bermoral. Dalam novel ini anak harus bermoral. Manusia berkembang otaknya sehingga itu yang membedakan manusia dari hewan. Tidak heran manusia dapat berdegradasi menjadi hewan bilan hidup terus-menerus tanpa bermoral.
If he says that things cannot degrade, that is, change downwards into lower forms, ask him, who told him that water-babies were lower than land-babies? But even if they were, does he know about the strange degradation of the common goose-barnacles, which one finds sticking on ships’ bottoms; or the still stranger degradation of some cousins of theirs, of which one hardly likes to talk, so shocking and ugly it is? [TWB, Chapter 2, p. 10]
Anak harus diberi pendidikan, pendidikan membuatnya menjadi manusia. Maksudnya adalah upaya ikut serta keluarga dalam mendidik sedini mungkin, tidak melepaskannya pada orang alin untuk bekerja dan bekerja saja. Dalam cerita ini, Tom di dunia bawah air diajari pelajaran moralnya oleh para peri. Belajar tidak perlu sesuatu yang formal di kelas yang penting maksa esensial di dalamnya. To banyak belajar dari hewan-hewan yang seharusnya menurut ilmu pengetahuan alam adanya di darat, seperti monyet menjadi monyet air, tupai menjadi tupai air, dan berang-berang
Ketujuh, rasa persahabatan. Dia telah belajar dari hewan-hewan air. Tetapi sayangnya, dia sangat suka berburu dan gangguan binatang, hanya untuk kesenangan semata. Hewan-hewan air itu pun segera jauhkan diri dari Tom, kemudian Tom kesepian.
“No!” it said, “you cannot catch me. I am a dragon-fly now, the king of all the flies; and I shall dance in the sunshine, and hawk over the river, and catch gnats, and have a beautiful wife like myself. I know what I shall do. Hurrah!” And he flew away into the air, and began catching gnats. / “Oh! come back, come back,” cried Tom, “you beautiful creature. I have no one to play with, and I am so lonely here. If you will but come back I will never try to catch you.”[TWB, chapter 3, p.4]
Akhirnya dia bertemu dengan capung yang menjadi temannya dan memberitahu dia fakta bahwa hewan-hewan air namun tidak begitu menyukai sikap Tom. Dari cerita ini, kita dapat mengambil intinya, yaitu perlakukanlah orang sebagimana kita ingin diperlakukan.
Kedelapan, rasa puas. Tom menghadapi kesulitan setelah Tom mencuri dan makan terlalu banyak permen laut. Tom telah diajarkan untuk bertindak sperlunya. Segala tindakan harus untuk kebaikan. Tetapi kali ini Tom terlalu mengingin sesuatu. Dari bagian ini kita diajarkan untuk berpuas diri dengan yang kita miliki, dan tidak berharap lebih terhadap sesuatu. Mencuri dan permen bisa dikatakan sesuatu yang adsar. Moral yang harus dijauhi Karen ada hukuman dan konsekuensi sakit gigi. Moral ini yang harus diajarkan pada anak sejaka usia dini.
Kesembilan. Kebajikan. Kejahatan tidak boleh dibalas dengan kejahatan. Itulah kurang lebih yang dijarka Ellie dan para ibu peri kepada Tom. Perjalanan Tom sendirian ke ujung dunia membuktikan bahwa dia layak menjadi manusia darat dengan moral yang terus meningkt dengan ‘membantu seseorang dia tidak suka’.
“The Water Babies” adalah sebuah karya menarik yang membawa isu perbiudakan anak yang mempersuasif pembaca agat memperlakukan anak kecil, terutama para anak kecil pekerja sebagaimana layaknya manusia dengan derajat setara di depan Tuhan. Meskipun isu yang diangkat hanya pada permukaan isu perbudakan anak di Inggris 1800-an, tetapi novel ini juga memberi contoh pelajaran moralitas dan cara memperlakukan anak kecil. Aspek moralitas dan petualangan berhasil dijadikan satu dari sudut pandang orang ketiga tahu segalanya. Tom sebagai tokoh utama berhasil mendapat pelajaran dalam hidupnya dan memulai babak baru sebagai “the great man of science” dalam hidupnya.
Sources:
Kingsley, Charles. The water Babies. www.bibliomania.com taken 14 December 2008
–. Charles Kingsley. www.wikipedia.com. taken 15 December 2008